Selasa, 18 Februari 2020

Review Film: Milea: Suara dari Dilan

 Kisah cinta remaja Dilan dan Milea mungkin diceritakan telah berakhir pada Dilan 1991yang tayang tahun lalu. Namun kini mereka kembali melalui film Milea: Suara dari Dilan, film ketiga sekaligus penutup dari trilogi saga Dilan.

Kisah Milea: Suara dari Dilan kini bukan lagi tentang sepasang muda-mudi SMA yang kembali berpacaran, melainkan suara hati Dilan yang tertuang selama menjalin asmara dengan Milea.

Dengan kata lain, Milea: Suara dari Dilan adalah klarifikasi Dilan (Iqbaal Ramadhan) atas kisah asmara dengan Milea (Vanesha Prescilla) yang dinarasikan dalam dua film sebelumnya. 

SAGA DILAN 1990


Ulasan Film: 'Dilan 1990'


Ulasan Film: 'Dilan 1991'


Sinopsis Milea: Suara dari Dilan, Klarifikasi Cerita Cinta


Cerita dalam film ini sendiri pun masih mengadaptasi kisah dari novel yang ditulis Pidi Baiq.

Milea: Suara dari Dilan dibuka dengan sosok Dilan dewasa yang sedang menulis cerita cinta versinya usai membaca dua buku dari kisah yang diceritakan Milea. 

Kisah dimulai dengan gambaran sekilas latar belakang keluarga dan masa kecil Dilan yang memang sudah cukup konyol sebelum bertemu Milea.

Setelah itu, 15 menit awal film dilanjutkan dengan sejumlah kilas balik atas 'PDKT' Dilan kepada Milea sampai akhirnya berpacaran, seperti yang diceritakan pada film pertama, Dilan 1990

Ragam kilas balik ini cukup membantu bagi penonton pemula yang melewatkan dua film sebelumnya.

Sisanya, alur Milea: Suara dari Dilan dibuat maju-mundur dengan kejadian di Dilan 1991, terutama ketika hubungan Dilan-Milea mulai menghadapi konflik.

Di antara konflik tersebut adalah Dilan yang mulai cemburu dengan kehadiran pria lain di sisi Milea, hingga kemudian ia menyerah dengan Milea yang kukuh mengekang Dilan tak lagi bergabung dengan geng motor.

Review Milea: Suara dari Dilan menilai film ini bukan lagi tentang sepasang muda-mudi SMA yang kembali berpacaran, melainkan suara hati Dilan yang tertuang selama menjalin asmara dengan Milea.: dok. Max Pictures/YouTube

Mengingat film ini dibuat bersamaan dengan Dilan 1991, detail teknis hingga peran tiap karakter tak mengalami perubahan berarti. 

Termasuk berbagai kekurangan yang ada di film kedua, seperti rambut sambungan Vanesha yang mengganggu, riasan wajah yang terlalu menor untuk murid SMA, serta emosi beberapa karakter yang kurang sampai, pun masih ada dalam Milea: Suara dari Dilan.

Soal cerita, Fajar Bustomi yang dibantu sang empunya cerita, Pidi Baiq, dalam penyutradaraan memang terbilang setia dengan kisah novelnya. Penggambaran cerita sebagian besar sudah cukup mewakili dari yang ada dalam novel.

Akan tetapi, ketika cerita dipindahkan ke media film, rasanya cerita ini akan bisa lebih menarik bila sejak awal ada sudut pandang Dilan terlibat dalam dua film sebelumnya. 

Lihat juga:

 Penonton Debut Film Milea Terlaris Kedua Sepanjang Masa

Model narasi yang saklek dengan novel itu membuat Milea: Suara dari Dilan sejatinya adalah kumpulan gambar nostalgia dari dua film sebelumnya, dengan beberapa adegan yang diperpanjang dan menampilkan suara hati Dilan.

Secara cerita, sudut pandang Dilan memang membuat cerita Dilan-Milea jadi lebih lengkap. Setidaknya, hal itu memberikan ruang 'pembelaan' kepada Dilan bahwa masalah antara dua remaja itu tak sepenuhnya salah pria muda itu semata.

Perpisahan Dilan-Milea pun pada akhirnya tergambar dengan jelas hanya karena emosi labil remaja dan gengsi semata, yang berujung penyesalan ketika sudah beranjak dewasa. 

Hal itu terlihat dari rasa dan kenangan yang masih terlihat dari keduanya meski sudah memiliki pasangan masing-masing.

Review Milea: Suara dari Dilan menilai film ini hanya menggambarkan problema cerita cinta remaja SMA yang tak berakhir bahagia. (dok. Max Pictures/YouTube)

Terlepas dari romansa hubungan Dilan-Milea yang membuat banyak penggemarnya galau, adegan ayah Dilan dalam film ini tak sanggup membuat penonton menguras air mata. 

Ketidakmampuan itu karena nuansa yang terbangun dalam adegan tersebut kurang bisa dieksekusi secara natural.

Catatan lain dari Milea: Suara dari Dilan adalah penggambaran sosok pasangan itu kala sudah dewasa. 

Sutradara dan film ini hanya bergantung pada perubahan tampilan luar dari Vanesha dan Iqbal untuk menunjukkan "sosok dewasa", alih-alih mematangkan dari segi emosi serta karakter. 

Amat disayangkan tak ada perkembangan memuaskan dari dua karakter utama dalam Milea: Suara dari Dilan, selain dari remaja yang didandani selayaknya orang dewasa.

Secara keseluruhan, Milea: Suara dari Dilan yang tayang sejak 13 Februari 2020 di seluruh bioskop, hanya menggambarkan problema cerita cinta remaja SMA yang tak berakhir bahagia. Meski begitu, setidaknya film remaja ini menjadi penawar rindu para pencinta kisah Dilan dan Milea untuk sekadar bernostalgia.

Mengenal Michael Howard, Mantan Gangster Preman Amerika yang Kini Tobat dan Jadi Motivator

Michael adalah pria Indonesia kelahiran Jakarta 3 Juli tahun 1980. Ia menjadi masa kecil yang cukup keras karena lahir di tengah rumah tangga yang tidak harmonis. Kesibukan kedua orangtua dalam pekerjaan membuat Howard kekurangan kasih sayang. Ayahnya juga merupakan orang yang sangat disiplin dan tidak mentolerir kenakalan. Oleh karena itu, ketika umurnya 7 tahun, ia dikirim ke asrama anak nakal yang berada di Batu, Jawa Timur. Umur 10 tahun, kelas 5 SD ia akhirnya diboyong ke Amerika Serikat dan hidup di sana selama 24 tahun sebelum kembali lagi ke Indonesia pada 2014 lalu.

Harapan Howard untuk punya banyak waktu bersama keluarga selama di negeri orang juga pupus sudah. Ia dan ibunya berada di daerah yang berbeda selama di Amerika, ia di Danver dan ibunya masih tinggal di Indonesia. Howard berulang kali dititipkan pada keluarga dan teman ibunya dengan alasan yang sama, karena bandel.  Setelah bersama orangtua di Amerika nyatanya ia masih belum bisa mendapatkan kasih sayang yang ia idamkan, karena Howard mencari hal tersebut di luar keluarga. Begitu awal mula ia tergabung dalam anggota gangster, yang mottonya ‘we are family’. Ia merasa memiliki keluarga baru, walaupun pekerjaannya tak jauh dari membuat onar dan kekacauan.

Kebebasan di Amerika memang membuat orang bisa melakukan apa saja. Selama 24 tahun tinggal di negeri Paman Sam, Howard tercatat sudah tiga kali keluar masuk penjara San Quentin California, yang notabenenya ditakuti karena berisi pelaku kejahatan dari berbagai kasus. Adapun penyebab yang membuat ia mendekam dalam bui adalah percobaan pembunuhan, jual senjata, pemakai narkoba yang berlangsung selama kurang lebih 20 tahun. Rentetan kejahatan tak terampuni tersebut membuat Howard akhirnya dideportasi oleh pemerintah Amerika. Selamanya tidak akan bisa menginjak tanah negara adidaya, Amerika lagi.

2014 lalu, ia diantar oleh petugas keamanan Amerika untuk memastikan bahwa dirinya memang sampai di Indonesia. Kepulangan Howard ke tanah kelahirannya ini ternyata menjadi titik balik tersendiri, karena ia sadar akan semua kekeliruan yang sudah diperbuat di masa lalu. Walaupun sempat terpuruk dan kondisi keuangan memburuk di Indonesia, atas bantuan artis tanah air –Gibran Martin serta Vicky Prasetyo, ia bisa kembali bangkit dan sekarang menjadi motivator Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul ‘Return’ ia menceritakan bagaimana prosesnya kembali ke jalan yang benar setelah 24 tahun hidup dalam dunia kelam. Howard kini juga menjadi pembicara handal, dirinya bahkan pernah satu pangggung bersaa merry riana

Kehidupan seseorang memang tak ada yang tau, hari ini berandal besok lusa bisa jadi orang baik-baik. Seperti yang dialami oleh Michael Howard, meski menjadi penyesalan seumur hidupnya karena tidak bisa lagi pergi ke Amerika, di satu sisi ia merasa bersyukur karena bisa keluar dari zona di mana ia merasa menjadi orang yang luar biasa jahat.